Useless Science & Useless Knowledge Era
Era Dimana Ilmu Tak Lagi Menyelamatkan, Tapi Menipu
Saudaraku... Kali ini izinkan saya berpikir ekstrem. Karena kejadian-kejadian di negeri Konoha ini memang sudah di luar nalar.
Kita hidup di era di mana semua orang merasa sudah benar.
Mengapa? Karena ia punya data. Katanya keputusan berbasis data, scientific, objektif.
Padahal... data yang ia pakai adalah data yang sudah dimanipulasi sejak dari hulu.
Laporan dibuat bukan untuk jujur, tapi untuk aman.
Angka dipercantik bukan untuk benar, tapi untuk naik jabatan.
Saudaraku, inilah bencana pertama.
Ada juga yang mengaudit. Ia datang bukan untuk mencari kebenaran, tapi dengan satu keyakinan di kepalanya: "Auditee pasti menyembunyikan data riil, jadi sudah pasti ia keliru."
Ia mengaudit dengan kebencian, bukan dengan keadilan. Akhirnya yang benar disalahkan, yang salah dibenarkan, tergantung siapa yang membayar auditnya.
Lalu kita lihat berita setiap hari. Semakin banyak orang ditangkap karena korupsi.
Dan jangan pernah menduga bahwa yang ditangkap itu sudah 80%. Demi Allah, belum.
Mengapa? Karena jumlah oknum saat ini bisa jadi sudah menguasai porsi besar dari jumlah pegawai negeri Konoha.
Ya... saya tidak membela mereka, tapi saya mencoba memahami jalan pikirannya yang rusak itu.
Ia butuh anaknya bisa sekolah bagus yang harganya mahal.
Ia butuh rumah yang layak untuk tinggal.
Ia butuh makan bergizi sebagai asupan.
Ia butuh kendaraan yang bisa dibanggakan.
Sementara gajinya tidak cukup untuk semua itu. Harga beras naik, harga sekolah melambung, harga rumah seperti harga surga.
Hanya pegawai dengan posisi tertentu dan jabatan tertentu yang bisa memenuhinya. Semisal anggota DPR... itupun kadang masih memainkan peran kolaborator bagi para koruptor.
Dan catat ini, saudaraku, yang paling menyayat hati:
Berapa banyak mereka yang gelarnya panjang, bahkan lebih panjang dari namanya... memberi manfaat buat negeri ini? Belum terasa.
Justru pelaku yang menipu, berbohong dan korupsi adalah orang yang masuk kategori white collar crime. Orang-orang berpendidikan. S1, S2, S3, Profesor, Doktor.
Saat mereka korupsi... mereka pakai ilmunya atau mengebiri ilmunya?
Mereka pakai ilmunya untuk mencari celah undang-undang.
Mereka pakai ilmunya untuk memanipulasi laporan keuangan.
Mereka pakai ilmunya untuk berbohong dengan elegan di depan sidang.
Maka benar... Ilmu saat ini tak guna. Ilmu saat ini useless.
Ilmu yang tidak membuat pemiliknya takut kepada Allah, adalah ilmu yang mati.
Rasulullah ﷺ sejak 14 abad lalu sudah menangis melihat era kita ini. Beliau berlindung dari ilmu yang seperti ini:
"اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ"
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak didengar."
HR. Muslim 2722
Itulah Useless Knowledge. Ilmu yang tidak bermanfaat. Ilmu yang ada di otak, tapi tidak turun ke hati. Ilmu yang membuatmu pintar berdebat, tapi bodoh dalam kejujuran.
Allah pun mencela ilmuwan yang seperti ini di dalam Al-Qur'an:
"مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا"
"Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal."
QS. Al-Jumu'ah: 5
Berat, saudaraku. Keledai membawa buku setebal gunung di punggungnya, tapi ia tidak paham satu huruf pun isinya. Itulah kita.
Gelar kita tebal, tapi akhlak kita tipis. Data kita banyak, tapi kejujuran kita sedikit.
Ilmu yang seharusnya membuat kita sujud, malah membuat kita sombong.
Ilmu yang seharusnya membuat kita melayani rakyat, malah kita pakai untuk menganiaya rakyat.
Saudaraku... Mari kita berhenti sejenak.
Untuk apa sekolah tinggi-tinggi jika untuk menipu?
Untuk apa data banyak-banyak jika untuk memanipulasi?
Untuk apa gelar panjang-panjang jika di hadapan Allah kita tetap ditanya: Ilmumu kau pakai untuk apa?
Rasulullah ﷺ bersabda:
"لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ... وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ"
"Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang... dan tentang ilmunya, apa yang ia amalkan dengannya."
HR. Tirmidzi 2417
Saudaraku, mari kita ubah.
Jangan jadi generasi yang pintar tapi tak berguna.
Jadilah generasi yang ilmunya sedikit, tapi bermanfaatnya besar.
Jadikan ilmumu untuk:
1. Mengatakan yang benar itu benar, meski pahit.
2. Menolak yang salah itu salah, meski menguntungkan.
3. Memberi makan anakmu dari yang halal, meski sedikit.
Karena anakmu tidak butuh sekolah mahal dari uang haram. Anakmu butuh contoh bahwa ayahnya adalah orang jujur.
Ingatlah:
"وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ"
"Dan takutlah pada hari di waktu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diberi balasan sempurna sesuai apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak akan dizalimi."
QS. Al-Baqarah: 281
Ini ayat terakhir yang turun. Seolah Allah ingin menutup Al-Qur'an dengan peringatan: Ilmu, data, jabatan, gelar... semua akan kau tinggalkan. Yang tersisa hanya: Apa yang kau lakukan dengan ilmumu itu.
Ya Allah, selamatkan kami dari ilmu yang tidak bermanfaat. Jadikan kami bagian hambamu yang turut merubah kondisi ini. Aamiin.