Pelajaran Dari Kemenangan 9:2 Indonesia vs Bangladesh
Saudaraku, mungkin beberapa waktu lalu kita menyaksikan pertandingan bola antara Indonesia melawan Bangladesh yang berakhir dengan skor telak 9:2 untuk kemenangan Indonesia.
Skor yang luar biasa. Hampir semua orang akan mengingat nama pencetak gol terbanyak. Michel Baker, yang menorehkan 5 gol. Namanya akan dicatat di papan skor, dihighlight di berita, dan dielu-elukan penonton.
Tapi ada pemandangan aneh yang terjadi di lapangan setelah peluit akhir berbunyi. Siapa yang dikejar oleh seluruh pemain, termasuk yang di bangku cadangan? Siapa yang dipeluk, ditindih, diangkat bersama?
Bukan Michel Baker, sang pencetak 5 gol. Tapi Ole Romeni, pemain yang bahkan tdk mencetak satu gol pun di pertandingan itu.
Mengapa?
Karena hampir bisa dikatakan, dari 9 gol yang masuk ke gawang Bangladesh, ada peran Ole Romeni di dalamnya. Dia yang menggiring dari tengah, memecah kebuntuan, menarik dua bek lawan, lalu memberikan umpan matang yang memanjakan teman-temannya. Dia tidak mencatatkan namanya di papan gol, tapi dia mencatatkan jasanya di hati satu tim.
Di sinilah makna Khoirunnaas Anfauhum Linnaas hidup.
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
(HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dihasankan Al-Albani)
Ole Romeni layak dikejar-kejar para pemain, karena dia dirasakan paling berjasa membuat tim ini menang. Sepertinya Ole Romeni mengerti untuk Tidak harus menjadi yg paling terlihat, cukuplah menjadi yg paling bermanfaat.
Michel Baker tidak akan bisa mencetak 5 gol tanpa Ole Romeni. Dan Ole Romeni tidak akan berarti tanpa Michel Baker yang menyelesaikannya. Tapi dalam kacamata tim, yang paling memberi umpan adalah yang paling dicintai.
Begitulah cara Allah dan manusia menilai kita.
Kita sering ingin menjadi Michel Baker dalam kehidupan. Ingin namanya besar, ingin prestasinya terlihat, ingin 5 gol itu atas nama kita. Kita ingin jadi yang paling depan.
Padahal di sisi Allah, yang paling dirindukan surga adalah para "Ole Romeni" kehidupan.
Orang yang mungkin tidak viral, tidak banyak follower, tidak disebut di panggung. Tapi dialah yang diam-diam memberi jalan. Menjadi penghubung rezeki. Menjadi jembatan kebaikan. Menjadi alasan orang lain bisa berhasil.
Allah SWT berfirman tentang hakikat amal yang mengalir ini:
وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا
"Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya."
(QS. Al-Muzzammil: 20)
Dan Rasulullah SAW mengingatkan kita:
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
"Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya."
(HR. Muslim No. 2699)
Lihatlah rumusnya. Saat Ole Romeni sibuk menolong saudaranya mencetak gol, seluruh tim datang menolong dan memeluknya. Saat kita sibuk menolong saudara kita, Allah dan seluruh penduduk langit akan datang menolong kita.
Maka saudaraku, jika kita ingin dirindukan surga, disayangi manusia, dan dicintai Allah, jangan hanya berambisi menjadi pencetak gol terbanyak. Jadilah ahlul amal hasanah. Jadilah pemberi umpan terbaik.
Di kantor, jadilah Ole Romeni yang memudahkan pekerjaan teman, bukan yang menjegalnya.
Di rumah, jadilah Ole Romeni yang menggiring keluarga menuju kebaikan, bukan yang mencetak ego pribadi.
Di masyarakat, jadilah Ole Romeni yang tidak perlu namanya disebut, tapi kehilangannya sangat dirasakan.
Karena pada akhirnya, papan skor dunia akan hilang. Yang kekal adalah siapa yang paling bermanfaat.
Dan mereka itulah Khoirunnaas.