UMUR
Saudaraku...
Umur sering kita jadikan alasan.
"Saya sudah tua..."
"Saya sudah tidak kuat..."
"Sudah tidak bisa menjalani tugas yang berat-berat lagi..."
"Biarlah yang muda-muda saja..."
Sahabat...
kalau kita sehat...
sehat ya...
mohon dicatat asumsi awal ini.
Selagi Allah masih beri kita napas, masih bisa berdiri, masih bisa berjalan, masih bisa berpikir jernih.
Umur tidak pernah menjadi alasan bagi sahabat-sahabat Rasulullah untuk meminta uzur kepada Allah.
Lihatlah Hamzah bin Abdul Muthalib radhiyallahu 'anhu. Paman Rasulullah ﷺ. Singa Allah.
Beliau mendampingi Rasulullah, berperang, berdakwah, melindungi Islam hingga syahid di perang Uhud pada umur 59 tahun. Hamzah adalah paman Rasul yang selisih umur hanya 2 tahun dengan Rasulullah. Di umur yang orang hari ini bilang "sudah waktunya pensiun", beliau justru sedang gagah-gagahnya membela agama Allah hingga darah terakhir.
Lihatlah 13 tahun dakwah di Mekkah. Panas, lapar, dilempari, diboikot. Lalu hijrah ke Madinah, menempuh padang pasir ratusan kilometer. Tahukah engkau berapa umur mereka? Rata-rata kaum Muhajirin itu berumur di atas 50-an tahun.
Abu Bakar saat hijrah umur 51 tahun. Untuk Umar bin Khattab, saat hijrah umurnya 39 tahun, tapi terus berjihad hingga syahid di umur 63 tahun.
Mereka tidak pernah berkata "Saya sudah tua."
Kenapa? Karena mereka tahu, umur bukanlah hitungan untuk berhenti. Umur adalah hitungan untuk semakin dekat dengan Allah.
Allah berfirman, menegur kita dengan sangat lembut:
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ
Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan apakah belum datang kepadamu pemberi peringatan? (QS. Fathir: 37)
Allah seolah berkata: "Aku sudah beri kamu umur panjang, kenapa tidak kamu pakai untuk mengingat-Ku?"
Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ
Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya. (HR. Tirmidzi)
Panjang umur bukan aib, saudaraku. Panjang umur adalah kesempatan emas yang tidak dimiliki oleh mereka yang sudah di dalam kubur. Mereka yang di alam barzah hari ini menangis ingin dikembalikan sedetik saja ke dunia untuk bisa sujud sekali lagi. Sementara kita yang masih hidup justru ingin cepat-cepat istirahat dari sujud.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ، وَلَا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ
Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian. (HR. Muslim)
Kenapa? Karena setiap tambahan umur, meski satu hari, adalah tambahan istighfar, tambahan sedekah, tambahan kesempatan untuk memperbaiki.
Jadi, saudaraku yang hari ini merasa sudah tua...
Jangan katakan "Saya sudah tidak berguna."
Katakan: "Alhamdulillah, Allah masih percaya saya hidup sampai hari ini, berarti masih ada pahala yang belum saya ambil."
Selagi sehat, ayuk...
Teruslah semangat menjalani sisa umur dunia. Jangan hitung sisa umurmu dengan keluhan.
Hitunglah dengan: Berapa lagi sholat berjamaah yang bisa aku kejar?
Berapa lagi ayat Qur'an yang bisa aku baca, aku tadaburi maknanya dan aku hafal untukku dan untuk generasi sesudahku? Berapa lagi anak muda yang bisa aku nasehati?
Karena umur di dunia ini pendek, tapi ia adalah tiket untuk menjemput indahnya kehidupan surgawi yang kekal.
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al-Hadid: 20)
Semangat, sahabat tua ku yang sholeh. Surga menantimu, bukan karena mudamu, tapi karena istiqomahmu hingga ujung umur.