ILMUWAN

Saudaraku... Ada beberapa masa, di mana ilmu dijadikan sebagai standar utama kehidupan.

Bekerja dilihat ilmunya dengan menanyakan ijazahnya. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin dihargai pendapatnya dan lebih baik pula pendapatannya.

Bahkan gelar orang berilmu diposisikan mengalahkan orang bergelar darah biru. Sehingga semakin sedikit orang yang menyematkan gelar darah birunya. Orang lebih bangga dipanggil Profesor, Doktor, Insinyur, daripada dipanggil Raden atau Gelar Kebangsawanan lainnya.

Ilmu menjadi begitu mulia. Dan memang seharusnya begitu. Karena Allah sendiri yang meninggikan derajat orang berilmu. Bukan manusia.

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. QS. Al-Mujadilah: 11

Tapi saudaraku... inilah yang harus kita pahami dengan hati yang jernih.

Tidak semua orang berilmu itu selamat. Ada dua jenis ilmuwan di dunia ini.

PERTAMA: Ikutilah orang berilmu yang (sedang) mengamalkan ilmunya.

Dialah pewaris para Nabi yang sesungguhnya. Dia akan memberikan pencerahan hidup. Dia akan menjadikan kerja kita menjadi kerja cerdas, bukan hanya kerja keras.

Duduk bersamanya membuat hati tenang. Mendengar nasehatnya membuat kita ingin sujud. Melihat hidupnya yang sederhana membuat kita malu akan cinta dunia kita.

Inilah ilmuwan yang ditangisi para malaikat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya malaikat membentangkan sayapnya sebagai tanda ridha kepada penuntut ilmu. HR. Abu Daud & Tirmidzi

Ilmunya membuat dia takut kepada Allah, bukan membuat dia ditakuti manusia.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama (orang berilmu). QS. Fathir: 28

KEDUA: Dan janganlah mengikuti orang berilmu yang dirasuki nafsu dunia.

Ini yang berbahaya, saudaraku.

Orang tipe ini ilmunya tinggi, gelarnya berderet, omongannya hebat. Tapi ilmunya hanya digunakan untuk mensiasati manusia agar hidupnya mulia di dunia.

Tidak peduli halal haram kehidupan. Tidak peduli berbuat menyimpang dari ilmunya. Ayat dipelintir, dalil dijual, fatwa dipesan sesuai harga.

Ilmuwan seperti ini, Allah sudah peringatkan dengan keras:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. QS. Al-A'raf: 175

Ngeri, saudaraku.

Dan Rasulullah ﷺ jauh-jauh hari sudah berpesan tentang bahaya ilmuwan tipe kedua ini:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ

Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku adalah setiap munafik yang pandai berbicara (berilmu lisannya). HR. Ahmad

Pandai bicara, tapi hatinya kosong. Gelarnya tinggi, tapi takutnya kepada Allah hilang.

Dan karenanya muncul pernyataan orang-orang jujur untuk mengingatkan kita agar tidak tersesat:

1. Jangan membenarkan laporan keuangan hanya dengan melihat jumlah antara debet dan kreditnya telah balance.

Karena orang berilmu yang jahat bisa membuat laporan yang balance di atas kertas, tapi bocor di akhirat. Yang benar belum tentu jujur.

2. Jangan melihat kebenaran dari gelarnya, namun ujilah omongnya dengan ilmu yang sebenarnya.

Karena gelar bisa dibeli, tapi takwa tidak bisa dihafal. Lihatlah, apakah ilmunya mengajakmu kepada Allah atau mengajakmu kepada dirinya?

3. Tidak semua keputusan Hakim memberikan keadilan.

Karena ada hakim yang ilmunya tentang hukum sangat tinggi, tapi keputusannya tunduk pada amplop, bukan pada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْقُضَاةُ ثَلَاثَةٌ: قَاضِيَانِ فِي النَّارِ، وَقَاضٍ فِي الْجَنَّةِ

Hakim itu ada tiga: dua di neraka dan satu di surga. HR. Abu Daud

Maka saudaraku...

Jangan silau dengan gelar. Silau lah dengan amal.

Carilah ilmuwan yang jika kau lihat wajahnya, kau ingat mati. Jika kau dengar nasehatnya, kau ingin menangis. Jika kau lihat hidupnya, kau ingin meniru zuhudnya.

Itulah ilmuwan yang akan menuntunmu, bukan hanya sampai ke kursi jabatan dunia, tapi sampai ke pintu surga.

Karenanya bijaklah dalam memilih dan memilah siapa yg benar-benar berilmu.

Semoga Allah karuniakan kita ilmu yang bermanfaat, dan dijauhkan dari ilmu yang menjadi bumerang di hari kiamat.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat. HR. Muslim