INTROVERT DAN EXTROVERT
Jadilah Ummatan Wasathan, Bukan Tawanan Kepribadian
Saudaraku, akhir-akhir ini banyak dari kita sibuk memberi label pada diri sendiri. "Aku introvert, maklumi aku pendiam." Atau “Aku extrovert, maklumilah aku ceplas-ceplos."
Seolah kepribadian adalah takdir yg membenarkan kelemahan kita. Padahal, dalam Islam kepribadian bukanlah pembenaran, tapi ujian(?). Mari kita jujur sejenak.
Kenalilah diri, jangan memenjarakan diri
Memang benar adanya.
Introvert: lebih nyaman dalam sepi. Tidak suka keramaian. Temannya sedikit tapi akrab, setia & berkualitas. Dia pendengar yg baik, teliti, jarang bicara tapi sekali bicara berbobot.
Extrovert: hidup dalam keramaian. Energinya adalah keramaian. Dia ramah, ekspresif, mudah kenal dan cepat akrab. Dia senang berbicara dan energinya menular.
Semua ada plus minusnya. Dan semua itu adalah pemberian Allah. Bukan pula suatu dosa. Allah berfirman:
"وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ"
"Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu." QS. Ar-Rum: 22.
Ulama menafsirkan, perbedaan tabiat & karakter pun termasuk ayat Allah. Allah sengaja menciptakan kita berbeda agar saling melengkapi, bukan saling menghakimi.
Rasulullah ﷺ pun mengakui perbedaan tabiat sahabat:
Abu Bakar itu lembut, Umar itu tegas, Utsman itu pemalu, Ali itu pemberani. Tidak ada yang disuruh menjadi orang lain. Tapi semuanya dididik untuk menjadi manusia beriman yg lebih baik.
Islam tidak membiarkan pembenaran, tapi perbaikan
Inilah indahnya Islam. Ia tidak membiarkan si introvert bersembunyi di balik kesendiriannya, dan tidak membiarkan si extrovert bebas dengan lisannya.
Untukmu yang Introvert... Mungkin berat bagimu untuk tersenyum duluan, menyapa orang, mencairkan suasana.
Tapi Rasulullah ﷺ mengajarkan breaking ice yang paling indah:
"تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ"
"Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu." HR. Tirmidzi 1956
"أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ"
"Sebarkanlah salam di antara kalian." HR. Muslim 54
Bayangkan, saudaraku... Hanya dengan senyum yang mungkin terasa berat bagimu, Allah catat sebagai sedekah. Hanya dengan "Assalamu ‘alaikum" yang pelan, Allah bukakan pintu surga karena menebar kedamaian.
Jangan jadikan "aku introvert" sebagai alasan untuk dingin dan menutup diri. Jadikan kesendirianmu untuk tafakur, tapi hadirmu untuk menebar salam.
Untukmu yang Extrovert... Energimu luar biasa. Tapi lisan yang mudah berbicara, juga mudah tergelincir.
Rasulullah ﷺ mengingatkan dengan tegas:
"مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ"
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." HR. Bukhari 6018, Muslim 47
"إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ"
"Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata tanpa dipikirkan, ternyata menjerumuskannya ke neraka lebih jauh dari jarak timur dan barat." HR. Bukhari 6477, Muslim 2988
Jangan jadikan "aku extrovert" sebagai alasan untuk susah menerima masukan, mudah merendahkan, atau gemar membicarakan aib orang. Jadikan keberanian bicaramu untuk membela kebenaran, bukan untuk menyakiti.
Jadilah ummatan wasathon, merekatkan bukan merenggangkan
Saudaraku... Islam tidak ingin kita menjadi introvert sejati atau extrovert sejati. Islam ingin kita menjadi ummatan wasathan - umat pertengahan.
"وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ"
"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan, agar kamu menjadi saksi atas manusia..." QS. Al-Baqarah: 143
Apa itu wasathan?
Si introvert belajar keluar dari cangkangnya untuk silaturahmi. Si extrovert belajar menahan lisannya untuk menjaga hati. Keduanya bertemu di tengah: menjadi perekat manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا"
"Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain." HR. Bukhari & Muslim
Bayangkan sebuah bangunan. Ada bata yg pendiam di dalam (introvert) yang kokoh menopang. Ada semen cair menjadi perekatnya ke mana-mana (extrovert). Keduanya dibutuhkan. Tanpa salah satunya, bangunan itu mudah roboh dan dirobohkan.
Allah juga memerintahkan:
"إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ"
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara." QS. Al-Hujurat: 10
Makna di atas sekai lagi bukan : sesungguhnya yang introvert bersaudara dengan introvert. Saudaraku... Berhentilah berkata: "Maklumi aku, aku introvert." Berhentilah berkata: "Terima aku, aku extrovert." Mulailah berkata: "Bimbing aku, ya Allah, agar kepribadianku menjadi amal shalih."
Jika kesendirianmu membuatmu lebih khusyuk dalam tahajud, itu kemuliaan. Jika keramaianmu membuatmu lebih mudah menolong orang, itu kemuliaan.
Tapi jika kesendirianmu membuatmu sombong dan tidak peduli, perbaikilah. Jika keramaianmu membuatmu zalim dengan lisan, tahanlah.
Karena pada akhirnya, Allah tidak bertanya: "Kamu introvert atau extrovert?" Allah akan bertanya: "Apa yang kamu lakukan dengan apa yang Aku titipkan padamu?"
Mari menjadi jembatan, bukan tembok. Mari menjadi penyejuk, bukan peluka. Karena kita adalah umat yang satu.
Wallahu alam bishowab