Hari ini, rasio puskesmas di Indonesia masih berada pada angka 1,4 per 100.000 jiwa. Jumlah ini masih jauh dibawah standar WHO di angka 2 puskesmas per 100.000 jiwa. Angka ini diperparah dengan ketimpangan distribusi dokter baik dokter umum dan dokter spesialis di Indonesia. Saat ini, di daerah perkotaan terdapat 1,1 dokter umum setiap 1000 jiwa. Jauh lebih tinggi ketimbang di pedesaan yang hanya 0,27 per 1000 jiwa. Distribusi dokter spesialis pun tidak lebih baik. Indeks Gini distribusi dokter spesialis hanya di angka 0,53.
Data-data di atas menunjukkan bahwa akses kesehatan saat ini belum merata di Indonesia. Khususnya di daerah pedesaan, tidak semua masyarakat mudah untuk mengakses fasilitas kesehatan. Pun meski dengan adanya BPJS, jika fasilitas kesehatan tidak terjangkau, maka dampak yang diberikan dari BPJS pun tidak maksimal.
LAZNAS Ikadi melihat aksesbilitas masyarakat terhadap fasilitas kesehatan yang rendah merupakan problem yang perlu mendapatkan intervensi. Melalui Program Kesehatan Masyarakat, LAZNAS Ikadi berharap masyarakat dapat lebih mudah mengakses layanan kesehatan dengan biaya yang terjangkau bahkan gratis.
Program Klinik Bergerak dirasa dapat menjadi solusi bagi masyarakat desa khususnya di daerah 3T. Klinik yang mobile dengan menggunakan kendaraan roda empat ataupun dua diharapkan mampu hadir hingga ke pelosok-pelosok. Klinik ini nantinya berfungsi sebagai layanan kesehatan terjangkau/gratis bagi masyarakat. Selain untuk berobat, Klinik Bergerak ini juga difungsikan sebagai saran edukasi kesehatan bagi masyarakat. Melalui Program Bantuan Edukasi Sehat dan Program Pelatihan Pemanfaatan Sumber Daya, diharapkan masyarakat sebagai penerima manfaat dapat menerapkan pola hidup sehat dengan juga memanfaatkan kondisi social geografis yang ada untuk menopang pola hidup sehat tersebut.






